"Hen, sebenarnya kamu yang harusnya Booktalk hari ini, tapi karena kamu nggak respon gantinya ya Nina."
Deg, masih tak percaya bahwa kata itu keluar editor saya Mbak Win. Seketika kami juga saling bercerita tentang apa yang saya alami, terkait naskah kenapa saya tidak gencar dalam mempromosikan mandiri pada saat pertama kali terbit.
Dulu, cita-cita itu sederhana. Peluncuran buku dan dihadiri banyak. Namun kini, cita-cita itu saya lupakan dan tidak lagi berharap banyak tentang kesempatan-kesempatan baik apa di masa depan. Ada, alhamdulillah, bila tidak ada ya juga nggak apa-apa.
Undangan Itu dari Kak Nina
Akhir-akhir ini saya memang jarang berselancar di Instagram. Eh, nggak tahunya ketika saya post status 24 jam di aplikasi itu teman saya kak Nina yang merupakan Blogger Medan mengirimkan pesan undangan peluncuran bukunya secara offline. Ia ternyata juga suka jalan-jalan dan saya pun teringat dengan teman saya kak Dian Restu yang merupakan Travel Blogger.
Saya dan kak Nina pernah launching buku pertama kali lewat zoom pada masa Covid 19. Itulah kali pertama yang membuat kami sedikit mengenal.
Identitas Buku
Judul: Rahasia Hati Asyila
Penulis: Nina Nola Bolang Manalu, S.Pd.
Editor: Winarti
Jumlah Halaman: viii+280
Penerbit: Umsu Press
Tahun Terbit: Februari 2025
ISBN: 978-623-408-942-4
Tentang Rahasia Hati Asyila
Cover bukunya menarik untuk anak remaja. Seperti temanya tentang Rahasia Hati Asyila, kisah sang pengarang sendiri pada saat SMA yang naksir dengan kakak kelasnya bak bintang. Bukan hanya tentang persahabatan, tapi juga bagaimana kondisi keluarga Asyila yang broken home. Hingg membuat Asyila tidak berani mengungkapkan rasa sukanya kepada kakak kelasnya. Hanya memendamnya dalam diam, tetapi teman-temannya sudah mengetahui akan hal itu.
Hal yang Menarik Bagi Diaryharumpuspita tentang Buku Ini
Tanpa terasa, perbincangan buku ini membuat luka lama saya terbuka kembali. Tentang broken home. Sebuah kata yang bahkan sudah lenyap dari kamus hidup saya. Pada saat saya melayangkan pertanyaan. Betapa menggenang pula air mata ini.
"Kak, saya tertarik nih dengan adanya kisah broken home ini. Pada era saat ini, mungkin ada juga anak broken home yang serupa di mana, rumah bukanlah tempat untuk pulang. Apalagi sekarang kan memang sudah ada buktinya ya. Bagaimana kakak bisa keluar dari rasa trauma itu sendiri?" tanya saya pertama kali dan terpotret pula menjadi peserta masuk dalam frame kegiatan.
"Kalau dibilang rasa trauma itu pasti ada. Saya ingat sekali, ibu saya masih melayaninya dengan baik dan ayah saya hampir menceraikan ibu saya. Tapi saya bertemu dengan suami saya terus saya bilang keadaan saya, itu kan nasib ayahmu tidak ada hubungannya dengan masa depanmu. Pada orang sebelumnya saya juga pernah bilang gitu, terus bilangnya 'saya bisa terima kamu apa adanya, tapi keluarga saya belum tentu' jadi saya pikir ya gimana ya, saya yakin nikah terus kalau andaipun terjadi, berarti memang sudah nasib barangkali ya."
Satu kata yang terlintas dalam benak saya, keberuntungan ada yang berpihak kepada kak Nina. Semoga Allah selalu senantiasa memberikan penjagaan dan kebaikan pada keluarganya saat ini. Namun yang menarik di sini adalah bagaimana ibunya kak Nina bersikap dan masih mampu bertahan dalam kesehatan mental. Sabar kalilah sang ibu. Rasanya ingin bercerita artikel tentang Broken Down Not Broken Home di segmen selanjutnya.
Ternyata kisah broken home ini juga menjadi hal yang menarik bagi para peserta lainnya dalam bertanya. Pada saat pemilihan peserta dengan pertanyaan terbaik, kak Nina pun memilih saya hingga saya membawa oleh-oleh mug dari Umsu Press. Alhamdulillah ...
Review Pengalaman Membaca
Secara proporsional kak Nina sudah tepat bila target pembacanya yang merupakan remaja, di mana beliau menjadikan lelaki yang punya prestasi sebagai orang disukai. Apalagi terkait rohis, tadinya Asyila tidak berhijab, jadi semakin yakin untuk berhijab.
Bagian orientasi pembicaraan di sini adalah bagaimana rasa hati Asyila kepada sang kakak kelas, yaitu Iqbal. Sementara untuk isi hatinya tentang keluarganya hanya digambarkan sekilas. Tidak begitu mendalam dan hanya beberapa bab saja.
Pantas saja, Mbak Winarti selaku moderator juga penasaran apakah si Iqbal dunia nyata ini tahu kalau kisahnya dituliskan? Kenapa nggak kisah suaminya saja yang dijadikan novel?
"Kalau sang suami sudah mam, tapi dituliskan sebagai cerpen saja. Saya ini dulu kan nulisnya di diary, jadi banyak banget kisah kisah saya pada masa itu. Saat menuliskannya harus membaca ulang buku-buku diary lama saya."
New Series
Sesuai dengan pembicaraan dalam booktalk. Kabarnya cerita ini akan ada kelanjutan nantinya. Makanya akhir kisahnya memang sengaja dibuat menggantung. Yap, kita tunggu ajalah ya kelanjutannya semoga dengan segera bisa launching kembali.









